17an Ala Medan Heritage

17an Medan Heritage

17an Ala Medan Heritage kali ini dengan mengajak anak muda peduli budaya untuk berkunjung ke gedung-gedung bersejarah.

Setiap kota pastinya memiliki cerita sejarahnya sendiri. Begitu pula dengan gedung-gedung peninggalan sejarah. Dewasa ini, kalau kita amati secara terperinci sudah terlalu banyak gedung-gedung mewah berdiri tegak sehingga gedung bersejarah tersebut secara tidak langsung mulai tersingkirkan. Jika bertanya kepada beberapa orang tentang letak atau nama bangunan bersejarah di kota Medan mungkin hanya sebagian kecil saja yang memahami dan tahu tentang bangunan bersejarah. Miris memang namun itulah nyatanya masih banyak orang-orang yang tidak tahu bahwa di kota Medan tempat tingalnya sendiri masih banyak gedung bersejarah yang patut dilestarikan dan benar-benar dijaga keutuhannya bukan dengan menghancurkan serta menggantikannya dengan bangunan mewah.

Tepat di hari Kemerdekaan kemarin Minggu, 17 Agustus 2014 sekitar jam 09.30 WIB kami yang tergabung dalam beberapa komunitas di Medan yang diikuti berkisar 15 orang yaitu Blogger Medan, Lapak Medan, Medan Heritage, dan beberapa mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) serta mahasiswa Universitas Negeri Medan (UNIMED) bersama tergabung di dalam satu wadah, merangkul dan berjabat tangan menjunjung tinggi kelestarian budaya lokal.

Bertemu di satu tempat yang merupakan salah satu gedung bersejarah dan titik Nol (0) kota Medan yakni Kantor Pos Indonesia atau yang lebih akrab dengan Kantor Pos Medan. Terletak di pusat kota Medan berdampingan dengan Lapangan Merdeka Medan (Merdeka Walk) gedung ini berdiri pada tahun 1911 yang merupakan karya besar dari arsitek SNUYF dan merupakan titik Nol (0) kota Medan lebih tepatnya Tugu Titik Nol (0) kota Medan yang berada di depan Kantor Pos Medan. Perjalanan berikutnya menuju gedung Bank Indonesia (BI). Gedung ini masih berada di pusat kota Medan bersebelahan dengan gedung Balai Kota. Bank Indonesia atau De Javasche Bank berdiri pada tahun 1906 yang juga merupakan pusat perbankan Belanda dimasanya. Sedangkan gedung Balai Kota Medan berdiri pada tahun 1900 yang pada masanya digunakan sebagai tempat pertemuan para petinggi Belanda. Gedung ini merupakan karya Hulswit dengan model bangunan Eropa Klasik. Dilanjutkan dengan berjalan kaki (Napak Tilas) menuju Gedung Mandiri dan London Sumatera (LONSUM). Gedung Mandiri sendiri sudah menjadi cagar budaya yang dilestarikan pemerintah begitupun dengan bebebrapa gedung yang diceritakan di awal. London Sumatera atau LONSUM ini masih dengan arsitektur yang sama terletak di dekat Jalan Kesawan dan masih berada di pusat Kota Medan. Gedung ini terdiri dari 4 lantai dan disetiap ruangan masih asli dan kental dengan sejarahnya. Berbeda dengan gedung-gedung lainnya, gedung ini masih memiliki lift yang terbuat dari besi dan merupakan lift pertama di Medan.

Menuju gedung Haren Huis yang didirikan pada tahun 1919 oleh Daniel Bawon Mackay sebagai orang yang meletakkan batu pertama di gedung ini. Saat ini gedung yang kurang terawat masih difungsikan sebagai kantor AMPI. Perjalanan masih berlanjut menyusuri Pasar Hindu Medan yang sangat unik dengan nuansa hijau dan terdapat kios-kios mini. Tiba di suatu tempat yakni Madrasah dari Masjid Lama Gang Bengkok. Madrasah di dekat Masjid Lama sampai saat ini masih digunakan sebagai sekolah oleh masyarakat setempat. Berkunjung ke Madrasah tidak lengkap jika tidak singgah di Masjid Lama. Masjid Lama Gang Bengkok sendiri sudah berumur sekitar 50 tahun lebih. Masjid ini berdiri pada tahun 1890, terletak di Jalan Masjid Kelurahan Kesawan, Medan Kota. Masjid tersebut dibangun pada masa pemerintahan Sultan Makmun Al Rasyid. Bangunan ini berdiri di atas tanah yang diwakafkan Datuk Haji Muhammad Ali, Nazir/Imam pertamanya adalah Syekh H.Muhammad Ya’Qub (1894-1910). Bangunan utama dan biayanya diperoleh dari Tjong A Fie saudagar terkaya di Medan pada masanya. Masjid Laama memiliki menara yang sangat menakjubkan. Menaranya terdiri dari 5 lantai, lantai 1-4 tangga yang berada di dalam menara masih asli dengan bahan kayu berwarna cokelat tua sedangkan di lanati 5 tangga sudah dimodifikasi menggunakan besi. Titik terakhir dari perjalanan ini adalah Tjong A Fie Mansion yang masih berada di seputaran Kesawan.

Tjong A Fie meninggal karena sakit akibat harga komoditi perkebunannya anjlok. jasa Tjong A Fie terlihat dari berdirnya beberapa bangunan bersejarah yang ia bangun. tanggal 4 Februari 1921 Tjong A Fie wafat, sekitar 10.000 orang mengiringi jenazahnya. tanggal 4 Februari 1921 Tjong A Fie wafat, sekitar 10.000 orang mengiringi jenazahnya.
Sekian! @WE_Dewie

23 comment(s) on “17an Ala Medan Heritage

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *