KolaborAKSI Merah Putih

KolaborAKSI Merah Putih adalah suatu bentuk aksi kepedulian lingkungan di sekitaran kawasan heritage atau situs sejarah yakni, Titi Gantung Medan. Kegiatan ini hasil kolaborasi beberapa komunitas yang ada di Kota Medan dan sama-sama bergerak mengkampanyekan lingkungan bersih serta lestari.

Piknik Heritage : KolaborAKSI Merah Putih

Kegiatan yang dilaksanakan pada 2 Agustus 2015 ini melibatkan kurang lebih 5 komunitas di Medan, diantaranya Medan Heritage Tour, Piknik Asik Medan, Kophi Sumut, Pariwisata Sumut, Medan Wisata, Medan Generasi Impian, dan Turun Tangan Medan.

Adapun kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi para pengunjung Titi Gantung akan pentingnya merawat serta menjaga kelestarian lingkungan di situs sejarah ini. seperti yang kita tahu bahwa melestarikan heritage atau warisan kota merupakan tugas bersama, bukan hanya tugas pemerintahan kota saja.

Piknik Heritage : KolaborAKSI Merah Putih

“Selama ini kan masyarakat tahunya, merawat dan melestarikan heritage itu adalah tugas pemko. Seharusnya sih itu tugas bersama. Contoh, kalau Dinas Kebersihan sudah membersihkan, tapi para pengunjung masih buang sampah sembarangan dan masih mencoret-coret tiang Titi Gantung, yah sama saja peran pemerintah di situ,” begitu ungkap Fely Komul yang merupakan salah satu anggota dari Medan Heritage Tour.

Kegiatan pada hari itu kami buka dengan pemaparan sejarah tentang Titi Gantung oleh Medan Heriatge Tour. Dilanjut dengan penjelasan dari Kophi Sumut tentang bedanya sampah organik dan non-organik, serta tentang pentingnya merawat lingkungan dan menghindari perilaku vandalism. Kemudian, ada pemaparan singkat dari Pariwisata Sumut tentang potensi wisata apa saja yang bisa dikembangkan di Kota Medan.

Piknik Heritage : KolaborAKSI Merah Putih

Piknik Heritage : KolaborAKSI Merah Putih

Piknik Heritage pun dimulai dengan pemaparan oleh Nasution Rizky yang merupakan salah satu penggagas Medan Heritage Tour. Ia mengatakan bahwa Titi Gantung berdiri berbarengan dengan didirikannya Perusahaan Kereta Api Deli Spoorweg Maatschappij pada tahun 1885. Titi Gantung dari dulu hingga kini masih memiliki fungsi yang sama yakni, menghubungkan Pusat Kota menuju Pusat Pasar. “Dan ini jika kita berdiri terus melihatnya kea rah kanan dan kiri, maka ini terlihat tegak lurus antara Pusat Kota, Titi Gantung, dan Pusat Pasar. Jadi dahulu jalan yang Uniland itu enggak ada. semua ini dahulu sekelilingnya hutan,” papar peremuan berhijab ini.

Nasution Rizky

Nasution Rizky

Selain sebagai sarana penghubung Pusat Kota dengan Pusat Pasar, Titi Gantung juga memiliki gaya arsitektur yang khas yakni, bergaya klasik Victoria. Dan situs ini dulunya juga merupakan tempat nongkrong para kolonial Belanda. Jadi tak heran jika hingga kini masih banyak para pengunjung Titi Gantung yang masih doyan menikmati sore sambil mencicipi panganan yang di jual di sepanjang Titi Gantung.

Sore itu Anugrah yang merupakan ketua dari Kophi Sumut juga memaparkan tentang dua jenis sampah yakni, organik dan non-organik. Organik adalah jenis sampah yang bisa terurai oleh alam, seperti sampah daun, tumbuhan, hewan, makanan, dan sebagainya. Sedangkan sampah non-organik yanki, sampah yang tidak bisa terurai, seperti sampah plastik, kertas, tisu, dan lain sebagainya.

Muhammad Anugrah

Muhammad Anugrah

Selain itu, ia juga menjelaskan tentang vandalism yang juga salah satu prilaku mencemari lingkungan. Vandalism adalah suatu perilaku atau tindakan mencoret-coret dinding ataupun bangunan secara sembarangan, tanpa izin dan tanpa ada nilai artistik dari coretan tersebut. Hal ini yang terjadi di Titi Gantung saat ini. Hampir di seluruh tiang Titi Gantung terdapat coretan yang tidak artistik, sehingga merusak nilai artistiknya.

Setelahnya, dilanjutkan oleh Eko Surya yakni, founder Pariwisata Sumut. Ia memulai diskusi dengan melempar pertanyaan kepada para peserta aksi sore itu. “Kalian tahu tidak upaya apa saja yang bisa dilakukan dalam melestarikan budaya asli Indonesia?” ungkap lelaki berjaket biru ini.

Eko Surya

Eko Surya

Berikut beberapa upaya yang di paparkan oleh Eko :

  1. Melalui media massa/media sosial.
  2. Pementasan-pementasan.
  3. Melibatkan peran pemerintah.
  4. Menyelenggarakan mata pelajaran muatan lokal.
  5. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam memajukan budaya lokal.
  6. Lebih mendorong kita untuk memaksimalkan potensi budaya lokal beserta pemberdayaan dan pelestariannya.
  7. Berusaha menghidupkan kembali semangat toleransi kekeluargaan, keramah-tamahan dan solidaristas yang tinggi.
  8. Selalu mempertahankan budaya Indonesia agar tidak punah.
  9. Mengusahakan agar semua orang mampu mengelola keanekaragaman budaya lokal. Oleh sebab itu, kita sebagai warga Indonesia sudah seharusnya berbangga dengan jutaan keindahan alam serta keanekaragaman budaya yang kita miliki. Dan sudah sepatutnya kita melestarikan kebudayaan ini agar terus berkembang serta dapat diperkenalkan kepada seluruh dunia agar tidak ada peng-klaim-an dari negara asing yang mengakui kebudayaan Indonesia sebagai kebudayaannya.

Selain itu Eko juga menjelaskan bahwa ketika anak muda ingin ikut melestarikan budayanya, biasanya mereka suka bertanya “bagaimana caranya?”. Maka ada beberapa hal yang bisa diterapkan, diantaranya :

  1. Memiliki antusias yang tinggi terhadap budaya Indonesia dengan bergabung di salah satu sanggar khusus kebudayaan Indonesia.
  2. Tidak malu untuk menampilkan seperti apa kebudayaan kita dengan menarikan tarian-tarian tradisional Indonesia.
  3. Membantu menjadi media publikasi dengan memperkenalkan pada dunia tentang asyiknya mempelajari kebudayaan Indonesia, salah satunya melalui jejaring sosial, dll.
  4. Terus menunjukkan rasa ketertarikan yang tinggi terhadap kebudayaan Indonesia di depan negara lain.

Begitulah Eko mencoba memaparkannya dan memvirus kami pada sore itu. Ternyata, tidak perlu melakukan hal yang besar untuk turut melestarikan budaya asli Indonesia. cukup dengan empat poin di atas, itu berarti kita sudah turut andil dalam pelestarian budaya Indonesia.

Selepas berdiskusi, kami melakukan aksi “SAVE GREEN, SAVE HERITAGE.” Dimana dengan menjaga lingkungan di sekitaran situs sejarah juga merupakan salah satu bentuk pelestarian heritage kota. Jadi, para peserta tidak hanya mendapat ilmu saat diskusi berlangsung, melainkan mereka langsung menerapkan ilmu yang didapat tersebut.

2015-08-23 17.12.00

 

 

 

Puisi : Nasution Rizky & Febry Pramasta Said

Puisi : Nasution Rizky & Febry Pramasta Said

Puisi : Aizeindra Yoga

Puisi : Aizeindra Yoga

Febry Pramasta Said

Puisi : Febry Pramasta Said

Puisi : Kang Ade Lambe

Puisi : Kang Ade Lambe

Setiap peserta tidak hanya bertugas mengutip sampah di seputaran Titi Gantung saja, mereka juga bertugas mengedukasi para pengunjung Titi Gantung tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya dan juga tentang perbedaan sampah organik dan non-organik. Dan kami juga menyediakan wadah sampah yang memiliki pesan tertempel di wadah tersebut. Selain itu, mereka juga berkewajiban menjelaskan tentang sejarah dan keberadaan Titi Gantung, serta apa alasan situs itu harus dijaga kelestariannya.

Liputan DAAI TV, Program Selasar Budi

Liputan DAAI TV, Program Selasar Budi

Komunitas Fotografi Medan

Komunitas Fotografi Medan

Hal inilah yang menjadikan kami memilih tema kegiatan Piknik Heritage dengan tema “KolaborAKSI Merah Putih,” selain karena dilakukan pada bulan Agustus, juga karena aksi ini dilakukan bersama dengan passion komunitas yang berbeda, namun tujuannya sama.

Penyerahan Tong Sampah Kepada Pedagang Kaki Lima

Penyerahan Tong Sampah Kepada Pedagang Kaki Lima

Demikianlah artikel KolaborAKSI Merah Putih ini. Semoga dapat memberi cakrawala baru bagi para pembacanya dalam membuat aksi pada pergerakan sosial. Salam Sinergi!

Piknik Heritage : KolaborAKSI Merah Putih

About Author: Medan Heritage
Penggerak Kegiatan Pelestarian Berbagai Heritage Yang Ada di Kota Medan | Medan Heritage Tour | Save Our Medan Heritage

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *