Lapangan (Belum) Merdeka

Setiap kota besar umumnya punya kawasan ruang terbuka untuk menjadi tempat berkumpul masyarakatnya. Apakah itu lapangan, alun-alun, atau apapun.

Nah, di Medan kita punya Lapangan Merdeka, yang dulunya disebut juga Esplanade, merupakan bahasa Belanda dari Lapangan Tengah Kota atau alun-alun. Di lapangan inilah masyarakat dari berbagai penjuru kota biasa berkumpul dan berkegiatan, ada yang senam, jogging, ada juga yang bercengkrama dengan keluarga, macam-lah. Di sekeliling lapangan ditanami pohon Trembesi (Albizia Saman) yang difungsikan untuk menyerap air hujan dan meneduhkan di kala terik matahari, jadi tetap sejuk biarpun kita berada di tengah kota.

Sahabat tau gak, dulunya, ada monumen-monumen yang terdapat di dalam kawasan Esplanade, loh. Pertama, Monumen Tamiang. Ada 2 versi cerita sejarah tentang monumen ini. Versi pertama, monumen yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda itu ditujukan untuk menghormati para serdadu Belanda yang gugur dalam Perang Tamiang (1893). Perang antara rakyat Tamiang dengan kolonial Belanda ini terbilang cukup sengit. Belanda yang kekurangan pasukan kala itu dibantu oleh hulubalang Kesultanan Deli, yang mungkin saja masih menyimpan dendam kepada rakyat Aceh. Karena baru setelah Resident Netscher (1863) datang ke Laboehan (Deli), mereka akhirnya terbebas dari Aceh. Lalu dikuasai oleh Belanda.

Selain itu, perang tersebut juga merupakan upaya pemerintah kolonial untuk mengeksplorasi minyak bumi di Tamiang, yang sebelumnya sudah dilakukan di Langkat (Telaga Said). Karenanya, tak terbendung lagi pertumpahan darah yang begitu banyak memakan korban bagi keduanya. Untuk itu, pada tahun 1894, pemerintah kolonial Belanda mendirikan monumen Tamiang di Esplanade, Medan, yang masih merupakan daerah jajahannya.

Versi kedua, Monumen Tamiang ini dibangun oleh Batafsche Petroleum Matschaapij (BPM) yang beroperasi di Telaga Said (Langkat) dan Tamiang. Monumen tersebut dibuat sebagai peringatan tentang sejarah eksplorasi minyak pertama di Sumatera Timur.

Selain itu, ada juga monumen Si Waluh Jabu, yaitu sebuah Geriten atau lebih dikenal dengan istilah Jambur. Geriten ini berada di dalam kawasan Lapangan Merdeka, letaknya tidak jauh dari Monumen Tamiang. Ada pendapat yang mengatakan bahwa Geriten ini didirikan sebagai pertanda lokasi wisata tanah Karo yang maju pesat sejak tahun 1912. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa Geriten ini didirikan karena banyak elit Karo yang berperan dalam situasi politik saat itu (sekitar tahun 1948) dimana elit Melayu masih ‘senyap’ pasca tragedi Revolusi Sosial (1946).

Namun sayang, kedua monumen tersebut kini sudah tidak terlihat lagi di kawasan Lapangan Merdeka.

Monumen lainnya yang masih berdiri sampai saat ini adalah monumen Perjuangan. Monumen yang didirikan untuk mengenang perjuangan para pemuda mengibarkan Sang Saka di Lapangan Merdeka Medan (6 Oktober 1946) merayakan kemerdekaannya ini diresmikan pada tahun 1986 oleh Almarhum Jenderal (Purn) Achmad Thaher. Beliau adalah orang yang mengawal pembacaan proklamasi kemerdekaan kala itu.

Monumen ini juga mempunyai makna di tiap bagian fisiknya. Seperti pelataran 45 x 23,30 meter yang berarti tahun 1945, jumlah 17 anak tangga di bagian pelataran pertama pada sisi depan dan sisi kanan yang melambangkan tanggal 17, dan 8 anak tangga pada pelataran kedua menuju bangunan utama yang melambangkan bulan Agustus, serta puncak monumen yang terdiri dari lima bagian yang melambangkan sila-sila dari Pancasila.

Kalau dihitung lagi, usia Lapangan Merdeka sekarang sudah hampir 150 tahun loh. Lebih tua usianya dari kota Medan yang baru disahkan oleh pemerintah kolonial Belanda menjadi Gemeente (1 April 1909). Saat ini, kondisi sudah jauh berbeda, di usianya yang sudah lebih seabad ini tidak banyak lagi manusia yang peduli. Buktinya, beberapa pohon Trembesi sudah berganti jadi perkerasan, ditebang dengan alasan membahayakan keselamatan, lalu sudut-sudut lapangan-pun di sulap jadi pertokoan dan pusat jajanan.

Banyak perubahan signifikan yang cenderung ‘lari’ dari esensi Esplanade itu sendiri. Kalau kamu, sukanya Lapangan Merdeka yang bagaimana?

Geriten miniatur rumah adat karo di lapangan Merdeka Medan-4

Geriten (Si Waluh Jabu di Lapangan Merdeka Medan)

Lapangan-Merdeka-Medan

Esplanade atau Lapangan Merdeka Medan

monumen perjuangan

Monumen Perjuangan

 

(Sumber: Berbagai Sumber)

About Author: Medan Heritage
Penggerak Kegiatan Pelestarian Berbagai Heritage Yang Ada di Kota Medan | Medan Heritage Tour | Save Our Medan Heritage

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *